Aside

Menutup kegiatan latihan paduan suara di GRII Pondok Indah, seorang bapak memimpin doa dan mengawalinya dengan kalimat, “Kami bersyukur karena kami terhisap dalam rencana kekal-Mu….” Saya langsung bergidik mendengar kata ‘terhisap’. Bahkan sampai saat ini saya tetap memikirkannya. Betapa tidak, itu adalah kata yang sangat tepat untuk mengungkapkan ke-tidakingin-an dan ke-tidakberdaya-an kita dalam melihat rencana kekal-Nya. Hati kita tidak pernah menginginkannya barang sedetik pun. Kita telah begitu hanyut dalam arus zaman dan kita begitu terpaku dengan kisah hidup kita yang kita rasa paling penting dari apapun di seluruh alam semesta ini. Kita merasa diri kitalah satu-satunya yang paling tahu dan paling bisa merencanakan segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Tetapi, hei, sejauh-jauhnya rencana itu, toh paling-paling akan berakhir di liang kubur berukuran 2×3. Kita tidak dapat memungkiri bahwa hati kita, semurni apapun, tidak pernah merencanakan sejauh kekekalan. Tidak tanpa penyataan dari-Nya.

Meminjam kata ‘terhisap’ dari bapak tersebut, izinkan saya untuk sedikit menceritakan kepada Anda, apa yang saya pikirkan ketika mendengar kata itu. Yang saya pikirkan adalah sebuah vacuum cleaner dinyalakan dan mulai diluncurkan di atas sebuah karpet usang yang benar-benar berdebu dan yang Anda tahu, pastilah sangat bau. Tentu saja para debu tidak pernah berencana untuk pergi dari sela-sela benang karpet. Tidak, lagipula mereka tak punya kaki… dan otak untuk pernah berpikir. Oleh karena itu, seandainya punya otak, tentu saja kekagetan yang luar biasa menghinggapi mereka ketika alat itu mulai menghisap satu-persatu dari mereka. Ya ampun, jika mereka berbicara, pastilah yang satu sudah berkata pada yang lain, “Aku terhisap, tolonglah aku!” Keadaan menjadi semakin dramatis ketika semakin banyak debu yang beterbangan memasuki ruang gelap vacuum cleaner dan membuat mereka harus berdesak-desakan, saling menimpa, pokoknya begitu ironis. Dan seandainya mereka benar-benar bisa berbicara, kita pasti sudah mendengar paduan jerit dan tangis mereka membahana. Tidak menutup kemungkinan pula ada yang senang dan berkata, “Hei, ini adalah hal terindah yang dapat terjadi pada setitik debu seperti saya! Saya terbang ke atas dengan kencang!!” Ya, menjadi subyek dari kata ‘terhisap’ benar-benar akan membuat Anda terkejut, dan entah Anda senang atau malah menjadi sedih, hal yang penting adalah bahwa Anda mengaku Anda tidak pernah berpikir tentang hal itu sebelumnya.🙂

Sejujurnya, secuil pun dari hati saya dan Anda tidak pernah mereka-rekakan hal yang demikian baik seperti kekekalan. Kekekalan adalah selama-lamanya, hal yang tidak akan sanggup Anda pikirkan karena Anda hidup di dunia yang terbatas oleh ruang dan waktu. Hanya Dia yang melakukannya bagi Anda. Begitu pun, ketika Anda dikejutkan oleh kenyataan bahwa Anda berada di dalam suatu rencana kekekalan yang tidak pernah Anda mengerti, Anda harus mengalami suatu transformasi. Hati Anda berubah. Ya, hati kita berubah. Dan memang itulah yang perlu di dalam keadaan ‘terhisap’ oleh rencana Allah yang Kekal. Anda tak dapat memungkiri dan melawannya, Anda harus menerimanya dan terus bertahan di dalamnya.

Di bawah ini adalah sebuah syair karya Robert Robinson yang saya temukan dalam buku “A Heart for God” oleh Sinclair B. Ferguson. Silahkan menyimak, di sini dapat Anda temukan kiasan dari tiga buah kata yang telah saya paparkan sebelumnya, yaitu kekekalan, ‘terhisap’ dan hati, bergabung dengan sempurna.🙂

Datanglah! Oh Sumber dari setiap berkat,
Siapkan hatiku untuk memuji-Mu;
Aliran kemurahan yang takkan pernah kering,
Mengundang pujian teragung.
Ajarlah daku pujian merdu itu,
Yang dipujikan dengan bergelora oleh setiap lidah di sorga;
Kutetapkan untuk memuji gunung Allah,
kasih yang tak berkesudahan dari gunung Allah.
 
Oh, betapa kuat tekanan itu
Setiap hari, memaksa dan memaksaku!
Biarlah belas kasihan itu berupa belenggu,
mengikat hatiku hanya untuk-Mu,
betapa cenderung aku untuk tersesat,
betapa cenderung aku untuk meninggalkan Allah yang kukasihi;
Inilah hatiku, ambillah, ambil dan simpanlah,
Simpanlah di sorga sana.
 

Renungkanlah lagi, betapa besar anugerah itu, membawa manusia yang terbatas ke dalam ke-tidakterbatas-an. Seharusnya, mengetahui hal ini, kita turut berdoa bersama John Calvin: “Dengan penuh kesungguhan dan ketulusan, kupersembahkan hatiku kepadaMu, ya Tuhan.” Tentu saja kita patut melakukannya, agar hati kita tetap dijaga-Nya berpaut pada rencana kekal yang sangat indah itu.

Immanuel (Tuhan beserta kita).

Tentang Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s