Aside

Di dalam buku ini, terdapat penjelasan mengenai tiga kecenderungan berpikir manusia pada zaman ini, yaitu:

a. Secara liberal: mencintai ide-ide
Orang-orang liberal terus menerima ide-ide baru yang bermunculan tanpa merasa perlu akan satu kebenaran mutlak yang dapat dipegang teguh. Semangat liberalisme muncul dalam zaman postmodern sebagai perlawanan terhadap zaman modern. Pada zaman ini, timbul anggapan bahwa kebenaran yang mutlak itu tidak ada dan berujung pada sifat pemusatan pada diri manusia, atau yang kita sebut dengan humanisme. Jenis orang yang menganut pemikiran seperti ini biasanya kaku, tidak punya perasaan dan aneh, serta akan sangat sulit menerima kebenaran (sejati).

b. Secara filsafat: mencintai tokoh-tokoh
Orang yang berpikir secara filsafat mencintai tokoh-tokoh yang memunculkan ide yang disukainya. Jenis orang-orang ini pun akan sangat tidak suka pada kebenaran (sejati) karena mereka hanya mau mengetahui semua hal yang telah diketahui oleh tokoh-tokoh tanpa mempunyai penjelasan secara rasional atas apapun yang telah mereka ketahui. Orang-orang ini mungkin tahu tetapi sesungguhnya tidak mengerti perkataan Aristoteles yang berbunyi,” Manusia harus bisa menjelaskan secara intelektual apa yang dipercayainya.”

c. Secara biblikal: mencintai kebenaran
Orang-orang ini hidup dengan mempercayai kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang diwahyukan Allah melalui Kitab Suci, sehingga mereka memiliki penjelasan rasional atas apa yang mereka percayai dan menjadikannya doktrin yang melandasi hidup mereka. Orang yang berpikir secara biblikal mempunyai hasrat untuk mengenal kebenaran dan hasrat akan kekudusan. Ketika didasarkan pada kebenaran yang mendorong manusia untuk memelihara kekudusan hidupnya, akan timbul sifat posesif pada pikirannya untuk mengenal kebenaran itu lebih dalam lagi sehingga diperoleh kepastian bahwa apa yang diketahui dan apa yang dihidupinya itu memang sungguh-sungguh benar.

Sebagaimana halnya dengan para pemikir liberal, orang yang berpikir secara filsafat hanya dapat menjadi orang bermartabat yang cerdas. Pada kenyataannya, orang yang hanya bermartabat jarang sekali dapat membawa pembaharuan atau perubahan pada orang lain untuk menuju pada kehidupan yang lebih baik. Sementara itu, orang yang berpikir secara biblikal seharusnya mempunyai moral yang tinggi di hadapan Tuhan karena visinya telah diperbaharui oleh Kitab Suci sehingga martabat yang dimilikinya dibangun di dalam Kristus, Sang Batu Karang yang Teguh itu.

Pemikiran adalah baik jika memimpin pada ketaatan yang tepat. Marilah menjadi intelek-intelek Kristen, yang dituntut untuk mengetahui ketika berpikir dan berpikir ketika mengetahui. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21)

Tuhan menyertai kita.(Bedah buku oleh Pdt. Tumpal Hutahaean)

Habits of the Mind (James W. Sire)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s