Aside

Kelu

Rasanya tak pantas untuk bahkan dibicarakan

Benar-benar bungkam

Apakah dukacita saya kudus?

Mengapa seolah hanya saya yang begitu sedih?

Mengapa hati terasa hancur?

Mengapa ini merobek-robek hati?

Beginikah rasanya Dia di sana?

Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri

Harus melihat semua ini. .

Mengapa Ia rela mencinta hingga terluka?

Kami hanyalah makhluk-makhluk tak tahu balas budi

Roh penurut, tetapi daging lemah

Apa hidup harus terus penuh tangisan?

Dan bagaimanakah dukacita rohani saya dapat dimurnikan?

Saya ingin. .

Ingin sekali keadaan kami segera membaik

Kami yang bilang kami cinta Dia

Kami mengaku laskar-Nya

Hancur memang

Mendengar, melihat semua kegagalan

Yang dibuat oleh kami

Kami semua telah gagal

Dan kami gagal lagi setiap hari

Tetapi kami tetap berjalan lagi

Tertatih-tatih mengikut jalur-Nya

Untuk menjadikan masing-masing kami

Lebih bergantung pada-Nya

Saya berdoa

Saya memohon kepada Tuhan

Untuk setiap dari kami yang ada di hati saya

Dan di pikiran saya sepanjang hari-hari ini

Saya sedih memikirkan kita

Saya sedih melihat kita

Bermain-main dengan anugerah

Saya pun tak layak

Sungguh saya tidak layak

Tetapi kita sama-sama telah ditebus

Dan kita harus saling mengingatkan

Semua butuh pertobatan hari lepas hari

Tak ada yang kebal terhadap dosa

Dengarlah saja, dengarlah saja

Tuhan akan menjaga tiap hati yang merasa tidak mampu tanpa Dia

Saya tak bisa melakukan lebih dari ini

Doa

Saya hanya bisa berdoa buat kita

Kita semua yang bilang mengasihi-Nya

Lebih sungguh-sungguhlah

Kita sudah diangkat dari lumpur

Mengapa kembali ke lumpur lagi?

Saya juga orang berdosa

Kita sama-sama berjuang

Tetapi tolonglah, tolonglah

Berjuang lebih sungguh

Sepanjang hari harus menangis

Mungkin memang harus menangis

Sampai kita tiba disana untuk menuai dan bersorak-sorai

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan

Tetapi saya tahu siapa yang memegang masa depan

Kita bisa lebih sungguh pun

Hanya karena kasih karunia

Mintalah kekuatan dan akan diberikan

Ya, hanya karena kasih karunia-Nya

Kami bisa hidup hingga hari ini

Ya biarlah Tuhan memurnikan kami!

Oh, tetapi ada

Ada yang tetap saja di sana

Di dalam lumpur

Kami menyakiti Dia saja

Mengapa?

Saya sedih, saya pikir cukup

Ini terlalu kejam

Mengapa tidak keluar?

Tidak bisa katanya. .

Dia tidak ingin keluar. .

Dia tak bisa berpikir rasional

Dia kejam terhadap dirinya sendiri

Dia lupa bahwa dia adalah gambar dari Allah yang Maha Kudus

Dan saya tak akan menulis lebih dari ini

Biarlah dia berperkara dengan Tuhan

Tuhan sajalah yang menghakimi

Mengapa saya menangis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s