Aside

Hari ini, seperti biasa saya menjalani fisioterapi guna memberi sedikit kelegaan pada ekor saya yang patah. Eits, jangan takut dan jangan kuatir dulu, saya ini manusia kok, dan selama ini Anda tidak salah mengagumi tulisan-tulisan saya. Beneran saya manusia beneran, hehehe, yang saya maksudkan barusan adalah tulang ekor, bukan ekor, hehe. .😛

Begini, sesampainya di tempat tidur fisioterapi, saya lalu tidur-tiduran sembari menikmati bagian belakang saya dipanasi oleh alat yang mengeluarkan gelombang yang katanya bisa meresap lewat kulit dan membesarkan pori-pori kulit sehingga kulit lebih rileks. Sayup-sayup mata hampir tertutup karena mengantuk ketika tiba-tiba dari tempat tidur sebelah terdengar seorang Ompung berkata kepada dua orang perawat yang sedang mengobrol dengan bahasa Jawa, “Kamu itu, berbicara bahasa Jawa kah?” Lalu mereka menjawab, ” Iya Ompung, kenapa?” Sahut si Ompung, ” Menantu saya itu orang Jawa. Dia bisa bicara seperti itu. Dia dari Jawa.” Perawat lantas bertanya,” Dari Jawa bagian mana, Pung?” “Tunggu ya, saya ingat-ingat dulu,” sahut si Ompung. Saya pun jadi gemas mendengar suara si Ompung ini, mirip suara Ompung saya soalnya, hiks hiks. Belum lagi logat Bataknya yang khas, membuat saya langsung tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut. Hampir 1 menit berlalu, dan kami pun (saya dan para perawat) bersama-sama menunggu si Ompung yang sedang mengingat. Lama juga ya, yang benar aja nih, jangan-jangan di sebelah si Ompung udah ketiduran lagi, pikirku. Si perawat yang sedang memijat si Ompung dengan tak sabar berkata,” Jawa mana, Pung? Ingat ga? Ngga ingat ya?” Lalu tiba-tiba Beliau berkata,”O iya, Solo. Iya, dari Solo menantu saya itu.” Hmmm, tersenyum lagi aku mendengar logat si Ompung ini. “Maaf ya, sudah agak susah mengingat, soalnya waktu itu saya tabrakan, tapi sebenarnya tidak ada yang patah. Hanya bagian sini saja yang sakit.” lanjut si Ompung. Tampaknya si perawat sedang memijat si Ompung di bagian yang sakit itu, sayangnya ada tirai yang memisahkan kami jadi saya tidak dapat melihat ke sebelah untuk memastikan bagian mana pada tubuhnya yang sedang difisioterapi. “Setelah itu saya tidak bisa mengenal siapapun, sehingga saya harus dirawat inap di rumah sakit ini selama hampir sebulan. Sekarang saya sudah sembuh,” lanjutnya. “Kenapa bisa tabrakan, Pung?” tanya si perawat. “Saya waktu itu dibonceng sama teman saya, pendeta dia. Dia harusnya membelok ke kanan, tapi lurus dia. Jadi ditabraklah kencang dari sini. Harusnya belok kanan, lurus dia.” cerita si Ompung. “Terus, si pendetanya gimana, Pung?’ tanya si perawat lagi. “Oh, ga kenapa-napa dia.” kata si Ompung lagi.

“Itulah, waktu itu saya tidak bisa kenal siapa-siapa. Kemaren saya dibawa ke kamar nomor..hmm..nomor tiga lima empat, terus dikasi liatlah saya anak SMA itu, 3 orang bersaudara dia, masih kelas 1 SMA dia tapi dia tidak bisa kenal siapa-siapa, cuma bisa bilang: ‘nggg…nggg…ngg..’ Kecelakaan juga dia. Dibilang oranglah ke saya: Dulu kamu pun begini, tidak kenal siapa-siapa. Menangislah saya, ternyata saya juga dulu sempat kayak begitu sebulan lamanya. Sampai bos saya pun dari Prudentia* datang tapi ga saya kenal lagi dia waktu itu. Lalu ketemu saya dengan ibu anak itu yang lagi menangis-nangis. Saya bilang: ‘Ibu, saya dulu seperti ini, tapi saya sekarang sudah sembuh. Saya juga dulu tidak bisa mengenal siapapun, seperti anakmu ini. Saya mau berdoa untuk anakmu agar Yang Maha Kuasa menyembuhkan dia seperti saya juga. Maukah? Tidak apa-apa, saya doakan asalkan kamu setuju saja’. Meskipun Muslim ibu itu, tapi dia mau saya doakan. Lalu saya berdoa buat anak itu.” “Sedih saya, itulah, ternyata begitulah kemarin itu saya. Tidak ada pun yang saya ingat, bahkan pas bangun saya tanya: ‘Di mana ini? Rumah sakit? Ngapain kita di rumah sakit?’ Untunglah saya udah sembuh dan masih bisa mengingat.” lanjut si Ompung. “Iya ya Pung, masih diberi kesempatan ya. Ngomong-ngomong, berapa usia Ompung sekarang?” tanya si perawat. “Tebaklah!” ujar si Ompung semangat. Lucu juga Ompung ini, pikirku lagi. “Enam puluh.. lima?” tebak si perawat. “Tambah sebelas lagi!” jawab Ompung itu. “Wah jadi berapa itu?” tanya si perawat sembari menghitung-hitung. “Tujuh puluh enaammm. Tujuh puluh enam jalan tujuh puluh tujuh saya,” jawab si Ompung bangga. Bah, jagoan si Ompung ini menghitung daripada perawat, pikir saya. Padahal perawat ini masih muda, ckckck.

Selanjutnya, si Ompung pun bercerita tentang 3 bulan di Kanada dan 3 bulan di Amerika (ntah bagian mana) tinggal bersama kedua anaknya setelah Beliau sembuh dari sakit. Makin teringatlah saya pada Ompung boru saya yang suka tinggal di luar negeri dan doyan makan es krim Häagen Dazs, hehehe. Cerita-cerita juga dia tentang temannya yang dulu perawat di RS Adven* (tempat kami sedang berbaring) dan tentang kehidupan masa mudanya. “Kenal kamu Rose Berry boru Lumban Tobing? Dia itu dulu perawat di sini. Pernahlah dulu ada teman cewek saya mengaku kepada saya bahwa dia itu pacar dari pacarnya si Rose Berry ini. Baru saya bilanglah ke si Rose Berry: ‘Ada cewek marga Siahaan, katanya pacarnya itu ya pacarmu.’ Terus saya suruhlah jangan lagi sama laki-laki itu. Lucu kan? Teman saya rupanya pacaran sama pacar teman saya, hehehe.” Dia tertawa, cerita yang aneh, tapi cara dia tertawa dan berbicara benar-benar seperti Ompung boru saya. Sungguh mengesankan, dan saya pun mulai masuk ke dalam kenangan masa lalu.

Ompung boru meninggal pada tahun 2007 di usia ke-84 tahun. Ompung boru adalah wanita tua yang penuh dengan semangat, persis seperti Ompung boru di sebelah ranjang saya itu. Ompung boru baru mulai pikun di usia 83 tahun, setahun sebelum ia akhirnya meninggal dunia. Semua mulai ngawur, Beliau tidak ingat siapa kami, bahkan anak- anaknya sendiri tidak diingat, dan Beliau sering mengigau serta bermimpi aneh. Entah kenapa air mata mulai meleleh di pipi saya, membasahi bantal tempat saya menaruh kepala. Jangan sampai dilihat suster, ntar disuruh bayar lagi, pikir saya. Yang membuat saya menangis, bukan karena Ompung telah tiada, melainkan karena semangat hidupnya. Semangat hidup Ompung yang kembali saya ingat melalui suara Ompung di sebelah saya. Seorang Ompung boru yang sangat mencintai Tuhan, yang setiap hari bangun pukul lima pagi dan kemudian membaca Alkitab serta berdoa dan selalu menyebut nama satu per satu anak serta cucu-cucunya, lalu keluar untuk jalan pagi, dan sering kali di pagi hari ketika kami akan berangkat pergi ke sekolah, Ompung boru telah berada di teras rumah atau sedang membantu Mama membersihkan tanaman, Beliau biasa ada di sana untuk mengantarkan kami ke sekolah. Sering kami mendengarnya cerewet karena marah dan kesal pada ulah kami di pagi hari, tapi sering pula kami diberi uang jajan ketika akan pergi. Dan biasanya Papa akan mengantarkan Ompung kembali ke rumahnya setelah mereka bersama- sama mengantarkan kami ke sekolah. Ompung yang rajin pergi ke persekutuan, Ompung yang tidak suka diam di rumah dan tidur-tiduran, Ompung yang suka tanaman dan yang mengajari saya merawat tanaman di dalam pot, Ompung yang akan marah bila melihat saya bermalas-malasan padahal ada piring kotor di wastafel, Ompung yang sangat suka makan masakan sendiri, tidak bisa makan vetsin dan yang masakan ikan mas arsiknya tidak tertandingi oleh masakan siapapun − hingga tiap kali anak- anaknya datang ke rumah selalu saja dengan lahap menghisap tulang dan kepala ikan mas arsik sampai kering, hehehe🙂 −, Ompung yang memberi saya kalung dan antingnya yang bagus di hari ulang tahun saya ketika saya masih kecil, Ompung yang datang ke rumah tiap kali salah satu dari kami sakit dan secara bergantian mengurut kami semua di bagian belakang telinga sewaktu kecil (dengan minyak Macan kesukaan keluarga besar kami), Ompung yang karenanya setiap anaknya pasti akan meluangkan waktu untuk datang ke Medan dan berkumpul bersama di hari ulang tahunnya, Ompung yang sangat berarti dalam hidup saya. Saya mengagumi kehebatannya dan kecintaannya pada Tuhan. Saya mengagumi kegigihan dan semangat hidupnya, hingga umur 83 tahun Beliau masih berjalan kaki setiap pagi dan masih ikut persekutuan. Saya pikir, mungkinkah saya hidup sampai umur yang panjang seperti Beliau dan Ompung boru di sebelah saya? Apa saya telah begitu gigih dan bersemangat seperti mereka? Apa saya telah melakukan yang terbaik seperti mereka sehingga sekarang mereka boleh melihat kesuksesan anak-anaknya dan terus mencintai Tuhan di masa tua mereka? Saya.. Jauh di dalam lubuk hati saya.. Di tengah-tengah segala kerusakan yang telah ada dan mungkin akan ada selanjutnya dalam cerita hidup saya, saya sangat ingin menjadi seperti mereka. Saya ingin hidup dengan kebiasaan yang baik sehingga saya bisa berumur panjang. Saya ingin berdisiplin, saya ingin mencintai dengan tulus seluruh anggota keluarga saya sehingga ketika saya tua nanti, saya akan tetap menjadi panutan bagi penerus saya. Saya ingin menjadi tua dan kelak ketika saya melihat ke belakang, saya masih dapat mengingat dan bersyukur pada Tuhan karena telah melalui masa muda saya dengan melakukan yang terbaik.

Hari ini, saya belajar dari seorang Ompung yang sedang fisioterapi bersama-sama dengan saya, dan saya kembali belajar dari Ompung boru saya yang telah tiada. Kembali ke cerita si Ompung tadi, tiba-tiba Beliau berkata,” Iya, iya, di situ sakit. Iya, di situ Suster.” Lalu suster ini menjawab,” Iya Ompung tapi waktunya sudah mau habis.” Saya rasa si perawat sudah pegal memijat Ompung itu selama sepuluh menit. Sesaat kemudian si Ompung pun pergi meninggalkan ruangan setelah berterima kasih kepada perawat, dan saya pun berkata di dalam hati, “Terima kasih juga, Ompung. Hati-hati di jalan ya, Ompung. Senang berkenalan denganmu. Semoga Tuhan memberkatimu.” Ya, sekalipun Beliau sama sekali tidak melihat saya😛

Ohya, ini foto Ompung boru saya.

Sweet memories of a woman with a great heart for GOD and others.🙂

Teringat Ompung Boru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s