Aside

Kakiku berdiri di tanah yang rata.

-Mazmur 26:12-

Hidup tanpa kesulitan, kekhawatiran, penderitaan dan kekecewaan − jika kehidupan yang demikian sungguh ada − barangkali terlalu manis untuk kebaikan diri kita. Seperti coklat, yang banyak, sebuah hidup yang enak mengalir turun dengan lancar tetapi menyumbat saluran pembuluh darah kita. Ketika kita memiliki hidup yang terlalu mudah, kita mulai percaya satu dari dua hal, keduanya sama-sama keliru: bahwa kita telah melakukan semuanya sendirian, berhasil tanpa bantuan orang lain; atau Allah telah memberkati kita karena, ya, kita adalah orang-orang yang baik.

Kemakmuran meningkatkan ego. Kemudahan melemahkan moral. Ketika pendapatan meningkat, demikian pula konsep diri kita. Meskipun orang-orang lain tersandung, kita mulai berpikir bahwa kita sungguh-sungguh diberkati dengan visi. Kita memiliki pendapat tentang kebaikan kita yang memupuk dosa kesombongan dan dalam waktu yang sama menyumbat rasa belas kasihan yang diperlukan untuk mengasihi mereka yang tidak begitu beruntung.

Orang-orang yang perasaannya membesar karena kebaikan mereka sendiri cenderung untuk mengecil secara dramatis pada saat masalah menyerang. Segala sesuatu runtuh, karena dibangun di atas kepercayaan pada diri. Tidak ada kekuatan yang dilatih, tidak ada yang menopang mereka dalam pergumulan melawan kekecewaan dan kedukaan. Sering kali, rasa bingung muncul − “Bagaimana hal ini dapat terjadi? Mengapa saya?” − dan kemudian putus asa. Yang tinggi dan yang perkasa, jatuh, tiba-tiba kekurangan keberanian untuk hidup dan harapan untuk masa depan.

Jika kehidupan seseorang telah dijalani di sepanjang jalan yang lurus dan rata, maka ayat yang dibahas hari ini − “Kakiku berdiri di tanah yang rata” − mungkin kedengaran seperti suatu kepercayaan diri. Tetapi lebih dari itu.

Pertimbangkanlah orang-orang yang bergumul − melawan kemiskinan, ketidakadilan, kefanatikan atau kebencian yang membara. Banyak yang melakukannya. Pertimbangkanlah orang-orang yang menjalani seluruh hidup mereka bergumul dengan kesehatan yang buruk. Pertimbangkanlah orang-orang yang terus-menerus mengkhawatirkan anak-anak yang telah tersesat dan yang tidak menunjukkan ada kemauan untuk kembali. Pertimbangkanlah orang-orang yang kehilangan anak-anak mereka sebelum waktunya. Beberapa dari kita telah bergumul dengan kekecewaan di sepanjang masa hidup kita. Kesedihan seperti itu dapat berakhir dalam keputusasaan.

Tetapi kita semua tahu orang lain yang imannya, dengan pertolongan Allah, telah menarik mereka kembali, orang-orang yang belum putus harapan dan yang dapat berkata bersama Habakuk: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab.3:17-18).

Pikirkanlah Lazarus. Orang yang menghabiskan seluruh masa hidupnya mengemis dari orang kaya yang bodoh, mengumpulkan remah-remah dari mejanya. Apakah dia melihat anak perempuannya lulus dari sekolah kedokteran, kita tidak tahu tentang hal itu. Yesus tidak memberi tahu kita hal yang lain lagi dari kehidupan orang ini. Namun, dia ada di sana dalam kemuliaan, sementara sanak saudara orang kaya tersebut, dengan pakaian yang indah, tragisnya berpesta di bawah sana.

Beberapa orang, secara menyedihkan diserang dengan kanker atau beberapa penyakit lain yang mengerikan, berdoa tanpa henti tetapi tetap berakhir dalam kuburan. Kita semua mengenal orang-orang yang mengalami hal seperti itu.

Kenyataannya adalah, tidak satu pun dari kita memiliki suatu hak atas sesuatu. Orang-orang yang telah menderita sangat mengetahui bahwa kita tidak akan pernah berdiri di hadapan wajah Allah dan menuntut sesuatu − tidak kebahagiaan, tidak pula kebebasan dari penderitaan. Dengarkanlah perkataan Yesus: “Ya, Bapa- Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan itu lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat.26:39).

Mujizat yang sesungguhnya adalah orang-orang yang dapat berkata bahwa kaki mereka tertanam di tanah dengan kokoh di hadapan kengerian dari musuh mereka. Itulah cara yang paling mulia untuk membaca ayat ini. Ketika tidak ada sesuatu apa pun di hadapan kita kecuali sebuah jalan yang berbukit-bukit yang penuh dengan bahaya, ketika salib penderitaan memberikan bayangannya ke atas kita bahkan sampai ke dalam kubur, maka hanya kemuliaan yang penuh dari iman yang dengan tegar menyingkapkan kepada kita sebuah jalan yang lebih tinggi, jalan ke puncak gunung kekudusan Allah, sebuah jalan yang menghilangkan semua kesedihan dan penderitaan serta kesakitan dalam suatu gambaran realitas yang jauh lebih tinggi.

Dalam senang atau susah, dalam suka atau duka, dalam kelimpahan atau kekurangan, orang yang jiwanya tetap yakin dan yang hatinya tidak gentar, orang itu mengangkat kesaksian yang paling menyenangkan dari semua ketika dia berkata, “nyamanlah jiwaku.”♥

Di tanah yang rata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s