Aside
Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji- Mu.
-Mazmur 119:67-

Orang-orang sering berkata, khususnya di saat-saat tekanan yang berat, bahwa penderitaan membangun karakter dan menguatkan iman. Memang demikian. Tetapi tidak selalu. Lebih lagi, mempercayai hal tersebut ketika seseorang berada di saat krisis bukanlah suatu hal yang mudah.

Tiba-tiba dan tanpa peringatan, seluruh kota hancur berkeping-keping akibat pergerakan lempeng bumi yang mengguncang dan menggelegar. Sesudah masa gempa bumi, orang-orang yang dalam keadaan bingung berdiri di jalan di tengah-tengah reruntuhan hidup mereka dan bertanya-tanya tentang kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya. Beberapa orang pada saat itu menjadi lebih dekat kepada Allah dari sebelumnya. Tetapi pada waktu kekacauan tersebut berlalu, rumah-rumah yang baru dibangun, dan jalan-jalan diperbaiki, keingintahuan dan pertanyaan itu pun ikut hilang. Kehidupan berlanjut. Keteraturan kembali dan bersamanya, ketidakacuhan.

Penderitaan juga menimbulkan atheisme. Seorang anak kecil menderita kanker. Di sudut yang gelap, keluarga bergandengan tangan dan datang di hadapan Allah, memohon kehidupan. Tetapi sang anak meninggal dunia, dan kelihatannya semua doa hanya sia-sia belaka. Bahwa jiwa memberontak akibat doa yang tidak terjawab − akibat Allah yang kelihatannya tidak peduli − merupakan hal yang dapat dimaklumi. Juga tidak sukar untuk dimengerti mengapa beberapa orang bisa berkata bahwa jika Allah ada, Dia tidak dapat menjadi Allah yang mengasihi. Berapa banyak orang yang sungguh-sungguh terhilang oleh bencana tersebut? Mungkin jutaan. Di manakah Allah yang mengasihi pada saat itu? Siapakah yang dapat melupakan kata-kata cacian dari istri Ayub? “Kutukilah Allah dan mati,” kata sang istri kepada suaminya dalam usaha untuk meringankan penderitaannya.

Apa yang harus kita ingat adalah kapan pun kedekatan dengan Allah yang berasal dari suatu perjalanan melalui lembah kekelaman terjadi, Allah yang mahakuasa-lah yang membuat kedekatan itu terjadi.

Apa yang tampak jelas di sini adalah bahwa penderitaan hanya memurnikan hati yang telah percaya. Hanya jiwa yang dulunya pernah dekat kepada Allah yang dapat mengakui bersama dengan pemazmur: “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu” (Mzm 119:67).

Mari kita membuat sebuah lompatan yang besar untuk sesaat. Apa yang juga tampak jelas adalah kemakmuran dan kesenangan tidak pernah membawa orang lebih dekat kepada Allah. Dua mobil dalam garasi, rekening tabungan yang besar, keluarga yang sehat, rumah yang dinaungi pohon − semua hal ini membuat kita merasa telah cukup diri dan aman sepenuhnya. Kita berdiri di atas pekarangan yang hijau dan mengagumi hasil kerja tangan kita. Dalam kemakmuran kita, kita perlu didorong untuk mengingat Allah.

Renungkanlah Salomo, di dalam seluruh hikmatnya, tetap jatuh dalam dosa.

Apa yang terjadi pada kita berlaku juga untuk keluarga dan bangsa-bangsa. Kesenangan dan kenyamanan melemahkan karakter, mengurangi kebergantungan kita pada suatu kuasa yang lebih besar dari diri sendiri, dan menguasai kita dengan sikap bergantung pada diri sendiri yang merupakan salah satu bentuk dari penyembahan berhala. Pria atau wanita kaya yang dapat tetap dekat dengan Allah kemungkinan adalah seseorang yang dulunya pernah dekat dengan Dia sebelum kekayaan menghalanginya. Tidak terhindarkan, apa yang kemudian disadari oleh pria atau wanita tersebut adalah betapa mekanis jadinya iman kita ketika kita hidup dalam kemewahan.

Apapun bentuk kehidupan kita secara materi, jika kita menyadari bahwa setan sangat mampu untuk mempermainkan kita, memimpin kita kepada lubang dan wabah, tetapi selain itu juga yakin bahwa Allah tetap memerintah, maka kita dapat tenang. Hal itu tidak berarti bahwa semua doa akan dijawab seperti apa yang kita inginkan. Kematian yang tidak terduga terjadi dan begitu sering. Mujizat yang sangat diharapkan tidak terjadi. Kita menderita. Dunia dapat menjadi sebuah tempat yang buruk. Banyak hal hancur berantakan. Orang-orang yang baik melakukan hal-hal yang buruk.

Namun jika kita mengetahui gambar besarnya − bahwa Allah memerintah − maka kita tahu, walaupun di dunia ini kita harus menurunkan seorang anak kecil ke dalam sebuah kubur, suatu hari kelak kita akan melihat kemuliaan wajah Allah. Suatu hari kelak realitas-Nya akan dinyatakan dan kita akan mengenal Dia secara intim. Suatu hari kita dapat berkata bersama dengan pemazmur, “sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.”

Bagi Allah segala kemuliaan.♥

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s