Aside
Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.
-Mazmur 130:4-

Lukas memberikan sebuah kisah. Yesus diundang untuk makan siang oleh Simon orang Farisi, tetapi peristiwa tersebut tidak menjadi suatu pertemuan pribadi. Tamu-tamu yang sepertinya tidak diundang bermunculan, termasuk seorang wanita yang tinggal di bagian gelap dari kota tersebut, secara terang-terangan, mulai membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan minyak wangi yang dibawanya serta dalam sebuah buli pualam khusus. Simon orang Farisi melintas, mengangkat alis matanya, dan kemudian berkata dalam hatinya, dengan congkak, bahwa dia tidak mengundang Kristus untuk melakukan pertemuan umum dengan orang berdosa seperti yang terjadi sekarang di tempatnya.

Kristus memberi tahu tuan rumah, “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih” (Luk. 7:47).

Simon orang Farisi sepertinya tidak bisa menerima khotbah singkat itu. Tetapi kita harus bisa, meskipun kebenaran yang ditulis di sini harus didekati secara hati-hati. Di satu sisi berdiri Simon orang Farisi, konsul kehormatan, ketua dari Lion Club lokal, yang menikah dengan ketua perhimpunan dana tahunan sekolah Kristen. Di sisi yang lain, seorang pelacur, yang tasnya penuh dengan kondom. Bukan lawan yang seimbang, bukan?

Tetapi Kristus berkata bahwa sang pelacur sungguh-sungguh mengasihi. Simon pasti terkejut dengan tanggapan yang tidak menyenangkan dari tamunya. Lagipula, dia yang mengundang pengkhotbah keliling itu untuk makan siang. Bukankah hal itu menunjukkan sesuatu? Tentu. Tetapi Simon tidak pernah berlutut dan berkotor-kotor dan membersihkan kaki Kristus yang berdebu. Wanita tersebut melakukannya. Orang yang mengetahui secara dalam kebenaran tentang pengampunan, mengetahui secara dalam bagaimana mengasihi − itulah yang disampaikan Kristus kepadanya.

Polanya sederhana: pertama dosa, kemudian pengampunan, dan kemudian kasih kita. Melalui pola ini kita mendapatkan suatu pengetahuan yang lebih dalam tentang Allah. Itulah yang sedang kita bicarakan di sini − suatu pengetahuan tentang Allah. Tetapi untuk sampai di sana merupakan suatu perkara yang sulit, karena dosa adalah penghalangnya.

Dengarkanlah! Kejatuhan kita dari kemuliaan di taman Eden telah mengubah secara mutlak segala sesuatu dan segala sesuatu secara mutlak. Tidak ada keragu-raguan tentang hal itu. Tetapi kita tidak akan pernah mengerti begitu besarnya karakter dari seorang Allah yang mengampuni seandainya kita tidak jatuh ke dalam dosa. Itu benar. Kita tahu lebih banyak tentang Dia karena Dia telah mengampuni kita. Lagipula, kita tahu jauh lebih banyak daripada malaikat.

Setiap ucapan yang dalam tentang kasih Allah di dalam Alkitab muncul dari pengalaman yang menggetarkan akan pengampunan di dalam hati. Kita tidak akan mengerti rekonsiliasi atau pengudusan jika kita sebelumnya tidak dibebaskan dari kesengsaraan dalam dosa. Kita mengenal Allah karena dosa kita.

Orang-orang percaya dan orang-orang tidak percaya sering bertolak- belakang dalam hal ini. Apa yang sering terjadi dengan ketidakpercayaan adalah penolakan untuk percaya di dalam realitas dosa manusia. Lagipula, siapa yang membutuhkan Allah jika kita dapat melakukan segalanya secara sendiri, betul?

Kekristenan modern juga meremehkan dosa. Orang-orang yang telah dibesarkan dalam suatu persekutuan Kristen dapat dengan mudah meremehkan dosa; tetapi ketika mereka melakukannya, mereka juga menghilangkan rekonsiliasi. Pengampunan tidak banyak berarti jika di sana tidak ada kotoran untuk dibersihkan. Bagi orang Kristen modern, pekerjaan baik dan gagasan-gagasan yang tinggi telah menjadi jiwa dari Kekristenan. Jika, seperti kata pemazmur, “Berbahagialah orang …, yang dosanya ditutupi” (Mzm. 32:1), maka orang Kristen modern tidak mengerti apa-apa tentang anugerah ini.

Tetapi orang-orang yang telah dibuat sampai berlutut, mengerti dan mengerti secara dalam sukacita penghapusan dari pengampunan, kualitas dari belas kasihan. Mereka mengenal kasih Allah.

Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu (Rm.6:1)? Tentu saja tidak. Orang-orang yang berkata begitu sama sekali tidak mengasihi Allah. Hal itu merupakan penghinaan terhadap kasih ilahi.

Tetapi apa yang disampaikan oleh gagasan ini adalah bahwa setiap kita memiliki suatu kesadaran yang dalam dan menetap tentang keberdosaan kita. Jika Anda meninggikan diri sendiri dan menganggap diri seorang kudus, Anda tidak akan pernah mengerti pengampunan, Anda tidak akan pernah mengenal kasih Allah, dan Anda tidak akan pernah mengembalikannya ke dunia-Nya dan umat-Nya. Tetapi jika Anda memahami dosa Anda dan mencari pengampunan, Anda akan mengetahui di dalam hatimu komitmen yang dalam dari janji Kristus sendiri tentang kasih dan sukacita.

Orang-orang yang mengetahui kebutuhan mereka akan Allah mengenal Dia lebih baik daripada mereka yang tidak, karena mereka mengerti apa arti diampuni.

Ketika kita ingin mengerti hal ini, tidak ada lagi yang lebih atau kurang daripada Injil.♥

Pada-Mu Ada Pengampunan, Supaya Engkau Ditakuti Orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s