Aside
Luputkanlah kiranya nyawaku dari pedang, dan aku yang seorang diri ini dari cengkeraman anjing.
-Mazmur 22:21-
(Terjemahan Alkitab versi Belanda)

Sebagian orang sangat menghindari keramaian, sementara sebagian orang yang lain menjauhkan diri dari kesendirian ibarat sebuah tulah. Sebagian orang menginginkan, bahkan sampai sakit, untuk bisa ikut di setiap kepanitiaan; sebagian orang yang lain lebih suka dicabut giginya daripada ikut di dalamnya. Sebagian orang senang dengan kesibukan, kalender yang penuh dengan coretan catatan kegiatan, dan sederet jadwal acara sosial yang tidak ada habisnya; sebagian orang lain lebih senang melepaskan sepatunya dan tinggal di rumah.

Perbedaan dalam karakter sangat jelas dan nyata. Orang-orang yang senang menyendiri menjadi letih hanya dengan mengamati orang-orang yang suka bersosialisasi, berkeliling dengan lincahnya di antara para tamu di sebuah pesta, berjabat tangan, bercerita, menebar tawa seperti sebuah virus bahagia. Ketika orang-orang yang suka bersosialisasi memandang orang-orang yang suka menyendiri, mereka tidak dapat membayangkan di mana orang-orang penyendiri tersebut menemukan kesenangan mereka.

Memang bodoh bagi seseorang untuk menghakimi orang lain berdasarkan tingkah laku sosial atau kurangnya tingkah laku sosial. Banyak urusan di dunia ini yang tidak akan tuntas jika kita tidak pernah meninggalkan kenyamanan ruang pribadi kita. Di lain pihak, gagasan-gagasan yang penting dan kreatif umumnya muncul dalam kesendirian dan kedalaman berpikir yang tidak mungkin dapat dicapai seseorang dalam kerumunan orang banyak.

Di samping perbedaan kita, setiap kita mempunyai bagian dari diri yang tersendiri, yaitu jiwa − yang disebut oleh Daud dua kali dalam Mazmur, seorang diri (“my solitary one,”KJV). Jiwa kita, bagian dari diri yang tersendiri adalah modal berharga kita. Pikirkanlah hal ini − SEGALA SESUATU YANG LAIN YANG KITA MILIKI DAPAT TERGANTIKAN. Bahkan tubuh kita dapat dibinasakan, diturunkan ke dalam kubur. Satu hal yang tetap adalah jiwa.

Namun, bahkan dalam individualitas dan kesendiriannya, jiwa bersifat sosial. Dunia dapat mendekati jiwa, dan jiwa dapat mendekati dunia. Panca indra kita, misalnya, dapat memberi kita keindahan sebuah pemandangan matahari terbenam, begitu luar biasa sehingga terasa seperti sorga. Kita mendengar atau melihat atau membaca kisah yang indah, dan air mata kita mengalir deras. Jiwa mungkin sendiri, tetapi ia bukan tanpa hubungan.

Meskipun demikian, seindah-indahnya pemandangan matahari terbenam, KITA TIDAK MENJADI SATU DENGAN PEMANDANGAN. Dan walaupun kita bisa merasakan, ini merupakan suatu berkat, kedalaman sukacita dan ratapan dari orang lain, sesuatu di dalam diri kita tetap merupakan individu yang unik. Dalam pernikahan, dua orang boleh jadi menjadi satu; tetapi bahkan dalam hubungan manusia yang paling intim sekalipun, jiwa tidak bisa berada di beberapa tempat sekaligus. Jiwa bersifat pribadi, sendirian.

Kesendirian dari jiwa sering menciptakan dua macam masalah. Kadang-kadang kita terlalu menarik diri dalam kesedihan, ratapan, atau luka ke suatu tempat persembunyian di mana bahkan pikiran untuk bunuh diri tercetus sebagai kemungkinan dalam pikiran kita. Kita menjadi frustasi dan mungkin lebih buruk. Keputusasaan dapat mengancam suatu kesendirian yang berlebihan. Jalan ke arah kesendirian yang berlebihan menuju kepada sikap yang terlalu menarik diri, terus merefleksi diri, dan bahkan narsisme.

Namun sekali lagi, kadang-kadang kita menjalani hidup ini dengan begitu hati-hati, sehingga esensi dari jiwa menjadi layu di tengah aktivitas yang tidak terkontrol dari kehidupan umum kita yang menggila. Jiwa memerlukan waktu menyendiri untuk dapat bertumbuh. Jalan yang menghindari refleksi diri dapat merampas pikiran dan refleksi kita yang mendalam.

Mungkin kita perlu memikirkan hal itu seperti demikian: jiwa memiliki banyak keserupaan dengan sebuah tabernakel. Di dalam jiwa dan tabernakel, terdapat ruangan umum, disini persahabatan yang erat dan keintiman diizinkan masuk. Tetapi melampaui gerbang tempat umum terdapat ruang mahakudus, dan ruangan ini tidak dapat dimasuki oleh siapa pun.

Kecuali Tuhan. Ia adalah satu-satunya obat bagi jiwa kita yang sakit.

Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita dari kesendirian kita dan juga memberi kita kehidupan sosial yang sangat dibutuhkan bagi kesehatan dari kehidupan kita yang paling terpencil. Orang-orang yang mengenal Allah di sana, di dalam takhta batin mereka sendiri, mengenal Dia sepenuhnya dan dengan indah. Merekalah yang berada paling dekat dengan Allah.♥

Kesendirianku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s