Aside
Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia
-Efesus 2:12-

Hari ini atheisme tidak hanya ada dimana-mana, di tempat-tempat tertentu ia sungguh-sungguh digemari. Orang-orang yang menyangkal Allah jauh lebih banyak sekarang ini daripada beberapa tahun yang lalu, dan di dalam banyak kasus orang-orang percaya tidak lagi merasa jijik dengan retorik orang-orang atheis seperti pada waktu yang lalu, dan ketidakacuhan tersebut menciptakan masalah.

Berpikirlah seperti ini. Saat seorang anak kecil mendengar sesuatu yang jelek tentang orangtuanya, reaksi pertamanya adalah sikap membela orangtuanya. Tetapi ketika anak itu mendengar hal-hal negatif tersebut berulang kali, reaksinya mulai mati rasa. Kita menanggapi kritik seperti itu secara lebih tenang dan akibatnya menderita suatu kerugian moral yang besar.

Atau bagaimana dengan hal ini. Ketika para pemimpin politik kita terus-menerus dikritik melalui pers, dalam talk show, dalam siaran TV malam, kita menjadi terbiasa untuk mendengarkan hal-hal jelek tentang mereka. Kita berhenti bereaksi secara negatif, dan para pemimpin kita lambat laun kehilangan kredibilitas di mata kita. Lebih lagi − dan lebih buruk lagi − pada waktu racun bekerja di dalam diri kita, ia memadamkan aspirasi kita sendiri untuk terlibat dalam pelayanan umum. Hal itu sungguh membahayakan, bukan?

Namun hal itu terus berlanjut. Demikian juga kampanye yang terus berlangsung untuk melawan Allah di dalam kebudayaan kita.

Hal ini tidak dapat disangkal bahwa suatu ancaman yang serius terhadap kehidupan umum terjadi ketika beberapa tokoh yang menonjol dari kebudayaan kita membuat agama sebagai bahan tertawaan. Bahkan orang kafir pun mengerti bahaya dari mengabaikan agama. Tetapi racun tersebut sudah ada di dalam diri kita, di dalam budaya kita, dan kita tampak tidak berdaya untuk melakukan sesuatu terhadapnya.

Kerajaan-kerajaan meninggalkan jejak sejarah di belakang mereka, dan banyak dari sejarah tersebut memiliki kesamaan. Suatu bangsa dan sebuah budaya dilahirkan dan kemudian bertumbuh menjadi makmur. Kemakmuran memimpin kepada kerusakan moral, kerusakan moral kepada ketidakacuhan religius, ketidakacuhan religius kepada atheisme− sebuah dunia tanpa Allah − dan atheisme kepada kehancuran.

Paulus tahu hal itu. Sebenarnya, itulah yang hendak diberitahukannya kepada jemaat di Efesus. Dia berkata bahwa dulu mereka hidup di waktu ketika dunia tanpa Allah. Tetapi sekarang tidak lagi.

Apa yang terjadi pada orang-orang yang bermaksud baik adalah mereka mulai memakai agama seolah-olah hal itu seperti makanan sehat. Mereka berpikir iman penting hanya pada hari-hari libur dan bagi upacara pernikahan. Sebenarnya, mereka bisa membawa anak-anak ke Sekolah Minggu karena mereka berpikir bahwa anak-anak perlu suatu dosis yang baik dari agama, seperti minyak ikan. Beberapa orang yang cerdas (dan sombong) senang berpikir bahwa agama adalah obat yang baik bagi masyarakat; hal itu menjaga mereka tetap teratur. Tetapi atheisme muncul dari ketidakacuhan.

Seringkali 0rang-orang yang menyangkal Allah menyukai seni, mempraktikkan kedermawanan, dan memajukan pendidikan dengan penuh semangat. Seringkali mereka senang dengan hal-hal ideal yang membangkitkan talenta puisi di dalam diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang ramah. Tetapi bagi mereka, agama adalah hal-hal yang tidak berguna.

Bagaimana kita menjangkau orang-orang tersebut? Sepenting apapun kredo-kredo dan praktik iman − berkhotbah, baptisan, perjamuan kudus − satu-satunya cara untuk membangkitkan kembali suatu rasa haus akan Allah di dalam diri orang-orang ini adalah kuasa kasih. Hanya kasih yang dapat mengerjakan keselamatan. Di Efesus, orang-orang yang hidup di dalam dunia tanpa Allah datang kepada Kristus dengan beramai-ramai − bukan melalui teguran atau hukuman keras, tetapi melalui kasih yang oleh para rasul dipikul tanpa mementingkan diri sendiri. Mengapa? Dalam kasih tersebut, realitas dari suatu kehidupan di dalam Allah diperlihatkan dengan jelas. Kasih tersebut mencairkan hati yang beku.

Lihat! Kita harus hidup di dunia; hanya pada saat mati kita dipanggil ke dalam keberadaan yang lain. Di sini, begitu banyak usaha melawan iman kita: kekayaan, pencobaan, pekerjaan, rekreasi, masalah-masalah, dan penderitaan kita. Kesibukan kita terlalu sering mengalihkan perhatian kita, sehingga orang-orang tersebut, bahkan orang-orang percaya, dapat menjalani hidup hari lepas hari tanpa sungguh-sungguh berpikir tentang Allah.

Tetapi di dalam konflik yang kita semua hadapi dalam hal kesetiaan yang terbagi, hanya Allah yang dapat melengkapi kita dengan kekuatan dan peralatan perang untuk terus hidup sepenuhnya di dalam terang-Nya. Kita dapat menjadi orang-orang percaya yang sungguh-sungguh hanya ketika kita tinggal dekat kepada Allah, ketika kita hidup dengan Dia, dalam Roh-Nya − tidak terpisah dari dunia, tetapi di pusat kesibukan kita.

Kita membawa kasih-Nya ke dalam hidup semua orang, bahkan kepada orang-orang atheis di sekitar kita, ketika kedekatan kita dengan Dia menjadi natur kedua kita yang sudah dilahirbarukan.♥

TANPA ALLAH DI DALAM DUNIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s