Aside

The Dream by Picasso

Sepertinya menarik, seseorang pernah berkata, begitu banyak orang bermimpi terlalu tinggi hanya untuk mengakhirinya sebagai lelucon.
Selama beberapa menit kuputar otak dan kurenungkan kalimat itu.
Apakah esensinya bermimpi? Apakah salah menjadi si pengkhayal? Di manakah letak batasan mimpi seseorang?
Bukankah kita dianjurkan meraih cita-cita setinggi bintang di langit?
Bagaimana meraihnya jika kita bahkan tidak pernah membayangkannya?
Memimpikan dan meraih mimpi, tampaknya dua hal ekstrim dalam hidup.
Mungkin beberapa orang memang terlahir tidak dapat berimajinasi sejauh yang lain.
Mereka hanya melaksanakan dengan sepenuh hati apa yang di depan mata mereka sekarang, menikmati hidup dengan harapan menjadi sukses seperti kebanyakan manusia lain di sekitarnya.
Beruntunglah menjadi mereka, setidaknya mereka tidak dituntut lebih dari apa yang telah mereka lakukan.
Manusia lainnya, diberikan otak yang ‘sedikit saja’ lebih dahsyat (dalam kurung: ‘gila’).
Kemampuan berpikir, menganalisa, membuka, mengoreksi dan mengunci kembali konsep hidupnya secara signifikan dan kontinu.
Semakin mempelajari diri sendiri membuat mereka sadar, bahwa ada hal besar dan lebih berharga di luar sana yang menanti untuk dikerjakan.
Hingga tidak menutup kemungkinan seorang tuli bisa menciptakan harmoni musik yang luar biasa indah.
Beethoven berhasil melawan ketakutan terbesarnya.
Dia bukan hanya mampu bermimpi besar, namun juga mampu mewujudkannya!!
Melihat sejarah kehidupan, orang-orang besar di dunia bermula dari pemimpi-pemimpi besar.
Orang-orang yang pemahamannya tak dibatasi oleh dinding-dinding sempit kemanusiaan.
Yang dapat melihat dengan jeli di balik tembok besar yang menghalangi pandangan sebagian besar orang.
Kebanyakan mereka ‘terpaksa’ bermimpi di bawah tekanan-tekanan hidup.
Yang lainnya hanya ‘dengan senang hati’ mengerjakan kebiasaan menganalisanya.
Ada kemauan, ada jalan. Setiap mimpi selalu punya cara untuk mewujudkannya.
Hanya saja, seperti yang sudah ditulis sebelumnya, pekerjaan meraih mimpi bukanlah hal yang biasa-biasa saja.
Kebalikan dari yang tadi, sebagian orang hanya terlahir untuk bermimpi saja dan kemudian berada di balik layar kesuksesan para eksekutor yang konon kita sebut sebagai orang-orang sukses.
Jadi saya tak menyebut setiap orang sukses termasuk dalam kalangan orang-orang besar, karena yang menjalankan impian itu sendiri terkadang memiliki motivasi yang berbeda dari si pemimpi.

***

Oke oke. Sampai di sini, siapa yang masih mengikuti? Oke, kuharap masih fokus, hehehe😛
Waktu masih smp, aku bermimpi menjadi astronot. Banyak artikel perjalanan ke luar angkasa sampai buku-buku pelajaran tata surya kubaca, kupelihara, bahkan foto planet Saturnus (entah kenapa) kutempel di dinding kamarku.
Waktu itu, aku punya begitu banyak waktu menulis buku harian, merancangkan hari-hari depanku dengan gemilang di kamar berukuran 3×3 meter kubik, di bawah cahaya lampu pijar setiap malam.
Kegemaranku menggunting dan mengoleksi artikel-artikel catatan pinggir di majalah tempo bacaan papaku, serta menggilai kata demi kata di lagu-lagu album perdana avril lavigne (yang kebanyakan menyatakan kebebasan berpikirnya).
Aku suka, sangat suka dengan diriku pada saat itu.
Cintaaaaaaaaaaaa pada keadaan di mana aku menangis, merenung, tersenyum, tertawa, terobsesi dengan pikiranku yang indah ini.🙂
Aku bermimpi dan bermimpi banyak hal lagi..

Lalu bla..bla..bla..(hidupku berjalan dengan cepat dan anda tak perlu tahu semua kisah di dalamnya..)

Tadaaaaaaaaaaaaa..
Tibalah aku di usia 20 tahun 8 bulan 9 hari, masih si pemimpi yang sama, hanya saja, caraku menyikapi ‘karunia’ bermimpi ini sudah tak karuan.
Karena tentu saja aku masih bermimpi, tetapi mimpiku tak lagi tentang masa depanku, tapi pada masa laluku.
Andai saja.. andai saja.. andaiiiiii andaiiiii andaiiiii si qiz ini begini begono bla.. bla.. bla.. (kita skip saja lagi..)
Hidup telah mengajarku dengan kenyataan pahit bahwa mimpi-mimpiku tak selalu menjadi kenyataan.
A HUGE CRASH IN THE JOURNEY OF MY LIFE!!!!uh-uh..no no no..
And sadly.. i can’t get up. can’t get rid of it, for sooooo long..
(wait! i’m changing the subtitle!)
Kasihan juga pikirku,kalo jadi orang yang kerjanya melihat ke belakang,bisa-bisa nabrak terus!
And another huge crash will absolutely continue happening..
Tashhhhh!!!!!!!!!!!
Tidak tidak tidak..
Stooooop!!

***

Satu pertanyaan menghampiriku, menyesalkah aku bermimpi menjadi astronot? Bahkan sampai bermimpi menciptakan pesawatku sendiri? (Kayanya ga ada yang percaya ya saya mimpi beginian?)
Tentu tidak!!
Mimpiku belum berakhir! Dia tetap di sana, terkubur di relung sanubariku yang terdalam, dan mungkin, butuh sedikit/banyak make over untuk membuatnya relevan dengan kenyataan hidupku sekarang, hehehe.
Aku berpikir lagi, kurasa, ‘tak ada yang sia-sia’, itu adalah kalimat yang baik.
Tetapi aku juga mengagumi kalimat ‘penyesalan selalu datang terlambat’.. Jangan sampai aku menyesal karena terlalu lama berada dalam penyesalan.
Oke deh di make over! Mimpiku berubah! Bukan mau jadi astronot lagi! Secara aku gak kuliah astronomi sekarang, lagipula aku dah lupa dimana semua peralatan tempur luar angkasaku, mau gimana aku ke Mars?
Mungkin aku menyerah pada perjuangan mimpiku yang satu ini tapi bukan berarti aku berhenti bermimpi.
Kupikir, oke jg jadi penulis.. Karna setiap kali menulis, aku plong, aku lega, puaaaasssssss kayak orang yang habis lulus tes setelah berjuang mati-matian, sementara aku gak berjuang sama sekali (HEHEHE), tinggal jebretttt! ketik, ketik.. jadi!!
wow! THIS IS SOOO MARIA QIZ!
Tapi saya juga pengen sukses!!! Kayaknya tulisan-tulisan kayak gini gak bisa menghidupi saya, hehe.
Oke, mimpi harus relevan! Jadi penulis mungkin sampingan aja kali ya..

Pikir pikir pikir.. Akhirnya saya memutuskan, mimpi saya bukan hanya menjadi penulis, tetapi juga menyelesaikan tanggungjawab kuliah di depan mata.
Ini mimpi yang besaaaaaarrr buat saya! Mengapa????
Karena saya salju (salah jurusan,red.)!!!!
Dan saya mengaku akan lebih begitu sangat berbahagia jika masuk jurusan arsi atau seni rupa atau musik, tapi tapi tapi, alasan saya tidak meninggalkannya adalah karena saya ‘sedikit’ menyukai pelajaran-pelajaran ini, lalu sayang juga ditinggal.. Kalo saya bisa, kenapa tidak???
Udah tiga setengah tahun disini, yaaa paling banter 1,5 tahun lagi lulus kok. Cuma gak diniatin aja dari awal, gag bener2 dimimpiin. Ckckck.
(Mimpi dilanjutkan dengan analisa, buka, koreksi dan kunci kembali konsep hidup.)
Analisa dan koreksi:
Saya ini orang yang malas, nah apakah mimpi saya ini terhambat perwujudannya dengan kemalasan? Ya! Maka saya tak boleh suka tidur lagi.
Selanjutnya, saya suka menulis, apakah mimpi saya berbenturan? Ya! Maka saya harus membatasi waktu di antara keduanya.
Terakhir, saya suka berpikir terlalu banyak tentang kemungkinan-kemungkinan buruk di depan a.k.a. pesimis (ini jelas- jelas hambatan), saya tentunya harus belajar memaksa diri untuk berbuat daripada berpikir terus (lama-lama jadi sok analitis sekali saya ini).
Membingungkan.. Kepala saya sering dibingungkan oleh diri saya sendiri yang tidak bisa memberi porsi yang seimbang antara berpikir dan berbuat. Ckckck.
Tapi nggak sih, si malas juga yang main-main di belakang dan nyalah-nyalahin si pikiran! Hehe.
Sampai saya kehilangan begitu banyak waktu-waktu berharga karena kemalasan saya merekonstruksi mimpi.
Dan akhirnya mimpi menjadi astronot menjadi sebuah lelucon bagi saya sekarang.
****

Finally i scream to myself!

Helloooo helloooo!!!!!!!
Wake up young lady! You’re getting old soon..
I want you to struggle hard enough to become great woman, before again, you have to re-makeover your dreams when great chances probably will no longer be available!

Amen!

dream a dream :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s