Category Archives: Uncategorized

Paul: A Man of Grace and Grit

Paul: A Man of Grace and Grit

Berikut adalah puisi yang ditulis oleh Charles R. Swindoll mengenai Paulus, seorang yang penuh kasih karunia dan ketegaran.

Aku telah menjalani kehidupan yang mudah,
Aku telah berjalan kemana kesenangan dan kenyamanan menuntun.
Sampai pada suatu hari di tempat yang tenang,
Aku bertemu SANG TUAN muka dengan muka.
 
Dengan jabatan dan kekayaan sebagai tujuanku.
Menghabiskan banyak waktu memikirkan hal-hal jasmani tetapi tidak untuk jiwaku.
Aku telah memasuki pertandingan kehidupan ini untuk menang.
Ketika aku bertemu muka dengan muka dengan SANG TUAN.
 
Aku membangun istana-istana yang tinggi,
Sampai menaranya menembus langit baru;
Aku telah bersumpah untuk memerintah dengan tongkat besi,
Ketika aku bertemu muka dengan muka dengan SANG TUAN.

Aku bertemu DIA, dan mengenal DIA dan malu untuk melihat,
Bahwa mataNya yang penuh dengan kesedihan memandangku;
Aku berjalan terhuyung-huyung dan terjatuh di kakiNya pada hari itu,
Sementara istana-istanaku luluh dan lenyap.
Karena semua telah luluh dan lenyap,
Tidak ada yang lain yang dapat kulihat selain wajah SANG TUAN.
 
Pikiranku kini tertuju kepada jiwa-jiwa manusia,
Aku telah kehilangan hidupku untuk menemukannya kembali;
Sejak hari itu, di tempat tenang itu,
Dimana aku bertemu muka dengan muka dengan SANG TUAN.

Perintah-Perintah Allah yang Manis kepada Roh-Roh Jahat, Angin, Burung-Burung Gagak, dan Kasih

Perintah-Perintah Allah yang Manis kepada Roh-Roh Jahat, Angin, Burung-Burung Gagak, dan Kasih
John Piper in Life as a Vapor

 

Jika, oleh anugerah Allah, Anda diyakinkan bahwa Allah di pihak Anda bukanlah musuh Anda, maka semakin banyak bukti tentang kedaulatan Allah yang Anda temukan, semakin Anda berbahagia. Dan semakin luas cakupan dari kedaulatan Allah, semakin Anda merasa aman dalam segala bahaya kasih.

Dan Ia memang di pihak kita. Injil adalah kabar baik bahwa, karena darah dan kebenaran Kristus, kita dibenarkan oleh iman semata, dan Allah di pihak kita selamanya. Dalam Roma 8:31-33 Paulus berkata, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita? … Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?”

Jadi, jika Allah di pihak kita, maka seluruh kuasa-Nya ada di pihak kita. Seluruh kedaulatan-Nya dikerahkan untuk kebaikan kita dan tidak pernah untuk menyerang kita. Segala ketetapan-Nya ditujukan bagi keuntungan kita yang sebesar-besarnya. Bagaimanakah Allah yang berdaulat bertanggung jawab atas hal-hal yang mengancam hidup kita? Ketika Allah memberi perintah, siapa dan apa yang harus taat?

Mari kita mulai dengan level musuh tertinggi. Malaikat-malaikat baik dan roh-roh jahat harus taat ketika Allah memberi perintah kepada mereka dengan otoritas yang tertinggi:”Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya!” (Mazmur 103:20). “Ia bahkan memerintah roh-roh jahat, dan mereka taat kepada-Nya” (Markus 1:27). Jadi, tidak ada roh jahat yang dapat berbuat apa-apa kepada orang pilihan Allah kecuali menjalankan maksud ultimat dari Allah yang ada di pihak kita. Sebagai contoh, perhatikan 2 Korintus 12:7-9,

Supaya aku tidak terlalu meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan terlalu meninggikan diri. Tiga kali aku berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku,”Kasih karunia-Ku cukup bagimu, sebab kuasa-Ku dijadikan sempurna di dalam kelemahan.” Karena itu aku akan lebih senang lagi bermegah karena kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Duri dalam daging bagi Paulus adalah “seorang utusan Iblis.” Rancangan Iblis adalah kesengsaraan Paulus dan kehancuran imannya. Ia ingin Paulus mengutuki Allah, seperti halnya ia ingin Ayub mengutuki Allah. Paulus berdoa agar “utusan Iblis” ini disingkirkan. Tiga kali Kristus yang sudah bangkit menjawab tidak. Kemudian Ia memberikan alasannya: Kuasa ilahi-Nya sendiri akan dibesarkan dalam kelemahan Paulus. Dengan kata lain, rancangan Kristus untuk duri ini sama sekali bertentangan dengan rancangan Iblis. Iblis ingin menghancurkan iman Paulus dan merendahkan Kristus. Kristus ingin agar duri ini memurnikan iman Paulus dan meninggikan kuasa-Nya. Ironinya di sini adalah bahwa siksaan Iblis menjadi bumerang dan menjadi sarana pengudusan − Iblis pasti berang ketika Allah melakukan hal ini. Allah tahu Ia akan melakukan hal ini ketika Ia mengizinkan Iblis untuk menyerang Paulus. Karena itu, Iblis pun merupakan bagian dari rancangan Allah untuk memberkati Paulus dengan kecakapan yang lebih besar dan memuliakan kuasa Kristus.

Selanjutnya mari kita membahas musuh yang nyata dari dunia alam yang seringkali mencelakai kita dengan malapetaka dan bencana dan penyakit dan rintangan. Seberapa berdaulatkah Allah terhadap alam? Bagian-bagian manakah dari alam yang dapat diperintah-Nya dengan kuasa yang efektif? Berikut ini adalah beberapa contoh alkitabiah:

“Aku telah memerintahkan burung-burung gagak untuk memberi makan engkau di sana” (1 Raja-raja 17:4). “Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dini hari atau fajar kau tunjukkan tempatnya?” (Ayub 38:12). “Ia memerintahkan langit di atas … dan Ia menurunkan kepada mereka manna” (Mazmur 78:23-24). “[Ia] memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai” (Ayub 9:7). “TUHAN mengutus seekor ikan besar untuk menelan Yunus” (Yunus 1:17). “TUHAN Allah menumbuhkan suatu tanaman dan membuat tanaman itu tumbuh menaungi Yunus” (Yunus 4:6). “Allah mengutus seekor ulat untuk menyerang tanaman itu, sehingga layu” (Yunus 4:7). “Ia memerintahkan dan membangkitkan angin badai, yang meninggikan gelombang-gelombang di laut” (Mazmur 107:25). “Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?” (Lukas 8:25). “Ia menyampaikan perintah-Nya kepada bumi; perkataan-Nya berlari dengan tangkas. Ia menurunkan salju seperti bulu domba; Ia menghamburkan embun beku seperti abu” (Mazmur 147:15). “Ia melemparkan kristal-kristal es-nya seperti pecahan-pecahan; siapakah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya?” (Mazmur 147:17). “Aku akan memerintahkan awan-awan supaya mereka jangan menurunkan hujan ke atasnya” (Yesaya 5:6). “Kedua tangan-Nya diselubungi-Nya dengan kilat petir dan memerintahkannya untuk menyambar sasaran” (Ayub 36:32).

Jika Allah memerintah semua roh jahat dan semua elemen-elemen alam, dan mereka taat kepada-Nya, dan jika Allah selalu di pihak kita dan tidak menjadi lawan kita, maka segala sesuatu yang menimpa orang-orang pilihan dimaksudkan untuk kebaikan kita. Segala sesuatu. “Segala sesuatu turut bekerja untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan yang dipanggil menurut rencana-Nya” (Roma 8:28) karena Ia mengatur segala sesuatu dan hanya berada di pihak kita dan bukan menjadi lawan kita.

Bukankah ini merupakan maksud dari perkataan Yesus ketika Ia berkata, “Bukankah burung pipit  dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu … Karena itu, jangan takut, sebab kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Matius 10:29, 31)? Logikanya di sini adalah bahwa ketakutan akan dibenarkan seandainya Allah tidak mengatur peristiwa-peristiwa yang remeh seperti kematian burung-burung pipit. Tetapi karena Ia sungguh-sungguh mengatur semuanya itu, dan karena Anda lebih berharga daripada banyak burung-burung pipit, ketakutan tidak dibenarkan. Kedaulatan Allah (tidak ada burung yang mati tanpa Dia) dan belas kasihan Allah (Ia lebih menyayangi Anda) menyingkirkan ketakutan ketika seolah-olah dunia ini menjadi tidak terkendali.

Tetapi perintah-perintah Allahh yang termanis bukanlah perintah kepada roh-roh jahat dan burung-burung gagak dan angin. Perintah-perintah Allah yang termanis adalah perintah-perintah kepada kasih dan berkat dan perjanjian-Nya sendiri. “Pada siang hari TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya, dan pada malam hari nyanyian-Nya ada padaku” (Mazmur 42:9). “Sebab di sana TUHAN telah memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mazmur 133:3). “Ia mengirimkan penebusan kepada umat-Nya; Ia telah memerintahkan perjanjian-Nya selamanya. Kudus dan dahsyatlah nama-Nya!” (Mazmur 111:9). Perintah- perintah yang termanis diberikan Allah kepada kasih-Nya sendiri: Kasih, pergilah kepada umat-Ku dengan kuasa yang tertinggi!

Betapa dahsyatnya!♥

Don’t Waste Your Life

Don’t Waste Your Life

Don’t Waste Your Life on DesiringGod.org

via Don’t Waste Your Life.

 

Chapter 4: MAGNIFYING CHRIST THROUGH PAIN AND DEATH

“… He loves us. And love does not mean making much of us or making life easy. It means making us able to enjoy making much of Him forever−no matter what it costs.”

“… Suffering is God’s design in this sin-soaked world (Romans 8:20)… And because sin is the belittling of the all-satisfying glory of God, the suffering that breaks its power is a severe mercy. Whatever makes us more and more able to enjoy making much of God is a mercy. For there is no greater joy than joy in the greatness of God. And if we must suffer to see this and savor it most deeply, then suffering is a mercy. And Christ’s call to take up our cross and join Him on the Calvary road is love.”

“… He (Dietrich Bonhoeffer, the writer of The Cost of Discipleship) believed in justification by grace through faith. But he did not believe that the faith that justifies could ever leave people unchanged by the radical Christ they claim to believe. That was a cheap response to the Gospel. ‘The only man,’ he said,’who has the right to say that he is justified by grace alone is the man who has left all to follow Christ.’”

“… What you love determines what you feel shame about. If you love for men to make much of you, you will feel shame when they don’t. But if you love for men to make much of Christ, then you will feel shame if He is belittled on your account… Christ was of infinite value to Paul, and so Paul longed for others to see and savor this value. That is what it means to magnify Christ—to show the magnitude of His value.”

“Death is a threat to the degree that it frustates your main goals. Death is a fearful to the degree that it threatens to rob you of what you treasure the most. But Paul treasures Christ most, and his goal was to magnify Christ. And he saw death not as a frustration of that goal but as an occasion for its fulfillment.”

Death makes visible where our treasure is. The way we die reveals the worth of Christ in our hearts. Christ is magnified in my death when i am satisfied with Him in my dying—when i experience death as gain because i gain Him. Or to say it another way: The essence of praising Christ is to prizing Christ. Christ will be praised in my death, if in my death He is prized above life.”

Quotes from C. T. Studd, A Warrior of GOD

Quotes from C. T. Studd, A Warrior of GOD

If you don’t desire to meet devil during the day, meet Jesus before dawn!

Jika kau tidak ingin bertemu iblis sepanjang hari, temuilah Yesus sebelum fajar!

If you don’t want the devil to hit you, hit him first!

Hit him with all your might, so that he may be too crippled to hit back!

“Preach the Word” is the rod the devils fear and hate.

Jika kau tidak ingin diserang setan, serang dia lebih dulu!

Serang dia dengan seluruh kekuatanmu, sehingga ia terlalu pincang untuk menyerang balik!

“Memberitakan Injil” adalah cambuk yang ditakuti dan dibenci setan.

If you don’t want to fall − walk, and walk straight and walk fast!

Jika kau tidak ingin jatuh − berjalanlah, dan berjalanlah lurus dan berjalanlah cepat!

Three of the devil’s dog with which he haunt us with: Swelled head, Laziness, Cupidity.

Tiga anjing pemburu yang digunakan setan untuk menangkap kita: Besar kepala (Kesombongan), Kemalasan, Ketamakan.

Michael Oher’s Quote

Michael Oher’s Quote

Courage is a hard thing to figure. You can have courage based on a dumb idea or mistake, but you’re not supposed to question adults, or your coach or your teacher, because they make the rules. Maybe they know best, but maybe they don’t. It all depends on who you are, where you come from. Didn’t at least one of the six hundred guys think about giving up, and joining with the other side? I mean, valley of death- that’s pretty salty stuff. That’s why, courage- it’s tricky. Should you always do what others tell you to do? Sometimes you might not even know why you’re doing something. I mean any fool can have courage. But honor, that’s the real reason for you either do something or you don’t. It’s who you are and maybe who you want to be. If you die trying for something important, then you have both honor and courage, and that’s pretty good. I think that’s what the writer was saying, that you should hope for courage and try for honor. And maybe even pray that the people telling you what to do have some, too.