Category Archives: Abraham Kuyper

Di tanah yang rata

Di tanah yang rata

Kakiku berdiri di tanah yang rata.

-Mazmur 26:12-

Hidup tanpa kesulitan, kekhawatiran, penderitaan dan kekecewaan − jika kehidupan yang demikian sungguh ada − barangkali terlalu manis untuk kebaikan diri kita. Seperti coklat, yang banyak, sebuah hidup yang enak mengalir turun dengan lancar tetapi menyumbat saluran pembuluh darah kita. Ketika kita memiliki hidup yang terlalu mudah, kita mulai percaya satu dari dua hal, keduanya sama-sama keliru: bahwa kita telah melakukan semuanya sendirian, berhasil tanpa bantuan orang lain; atau Allah telah memberkati kita karena, ya, kita adalah orang-orang yang baik.

Kemakmuran meningkatkan ego. Kemudahan melemahkan moral. Ketika pendapatan meningkat, demikian pula konsep diri kita. Meskipun orang-orang lain tersandung, kita mulai berpikir bahwa kita sungguh-sungguh diberkati dengan visi. Kita memiliki pendapat tentang kebaikan kita yang memupuk dosa kesombongan dan dalam waktu yang sama menyumbat rasa belas kasihan yang diperlukan untuk mengasihi mereka yang tidak begitu beruntung.

Orang-orang yang perasaannya membesar karena kebaikan mereka sendiri cenderung untuk mengecil secara dramatis pada saat masalah menyerang. Segala sesuatu runtuh, karena dibangun di atas kepercayaan pada diri. Tidak ada kekuatan yang dilatih, tidak ada yang menopang mereka dalam pergumulan melawan kekecewaan dan kedukaan. Sering kali, rasa bingung muncul − ”Bagaimana hal ini dapat terjadi? Mengapa saya?” − dan kemudian putus asa. Yang tinggi dan yang perkasa, jatuh, tiba-tiba kekurangan keberanian untuk hidup dan harapan untuk masa depan.

Jika kehidupan seseorang telah dijalani di sepanjang jalan yang lurus dan rata, maka ayat yang dibahas hari ini − ”Kakiku berdiri di tanah yang rata” − mungkin kedengaran seperti suatu kepercayaan diri. Tetapi lebih dari itu.

Pertimbangkanlah orang-orang yang bergumul − melawan kemiskinan, ketidakadilan, kefanatikan atau kebencian yang membara. Banyak yang melakukannya. Pertimbangkanlah orang-orang yang menjalani seluruh hidup mereka bergumul dengan kesehatan yang buruk. Pertimbangkanlah orang-orang yang terus-menerus mengkhawatirkan anak-anak yang telah tersesat dan yang tidak menunjukkan ada kemauan untuk kembali. Pertimbangkanlah orang-orang yang kehilangan anak-anak mereka sebelum waktunya. Beberapa dari kita telah bergumul dengan kekecewaan di sepanjang masa hidup kita. Kesedihan seperti itu dapat berakhir dalam keputusasaan.

Tetapi kita semua tahu orang lain yang imannya, dengan pertolongan Allah, telah menarik mereka kembali, orang-orang yang belum putus harapan dan yang dapat berkata bersama Habakuk: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab.3:17-18).

Pikirkanlah Lazarus. Orang yang menghabiskan seluruh masa hidupnya mengemis dari orang kaya yang bodoh, mengumpulkan remah-remah dari mejanya. Apakah dia melihat anak perempuannya lulus dari sekolah kedokteran, kita tidak tahu tentang hal itu. Yesus tidak memberi tahu kita hal yang lain lagi dari kehidupan orang ini. Namun, dia ada di sana dalam kemuliaan, sementara sanak saudara orang kaya tersebut, dengan pakaian yang indah, tragisnya berpesta di bawah sana.

Beberapa orang, secara menyedihkan diserang dengan kanker atau beberapa penyakit lain yang mengerikan, berdoa tanpa henti tetapi tetap berakhir dalam kuburan. Kita semua mengenal orang-orang yang mengalami hal seperti itu.

Kenyataannya adalah, tidak satu pun dari kita memiliki suatu hak atas sesuatu. Orang-orang yang telah menderita sangat mengetahui bahwa kita tidak akan pernah berdiri di hadapan wajah Allah dan menuntut sesuatu − tidak kebahagiaan, tidak pula kebebasan dari penderitaan. Dengarkanlah perkataan Yesus: “Ya, Bapa- Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan itu lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat.26:39).

Mujizat yang sesungguhnya adalah orang-orang yang dapat berkata bahwa kaki mereka tertanam di tanah dengan kokoh di hadapan kengerian dari musuh mereka. Itulah cara yang paling mulia untuk membaca ayat ini. Ketika tidak ada sesuatu apa pun di hadapan kita kecuali sebuah jalan yang berbukit-bukit yang penuh dengan bahaya, ketika salib penderitaan memberikan bayangannya ke atas kita bahkan sampai ke dalam kubur, maka hanya kemuliaan yang penuh dari iman yang dengan tegar menyingkapkan kepada kita sebuah jalan yang lebih tinggi, jalan ke puncak gunung kekudusan Allah, sebuah jalan yang menghilangkan semua kesedihan dan penderitaan serta kesakitan dalam suatu gambaran realitas yang jauh lebih tinggi.

Dalam senang atau susah, dalam suka atau duka, dalam kelimpahan atau kekurangan, orang yang jiwanya tetap yakin dan yang hatinya tidak gentar, orang itu mengangkat kesaksian yang paling menyenangkan dari semua ketika dia berkata, “nyamanlah jiwaku.”♥

Pada-Mu Ada Pengampunan, Supaya Engkau Ditakuti Orang

Pada-Mu Ada Pengampunan, Supaya Engkau Ditakuti Orang
Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.
-Mazmur 130:4-

Lukas memberikan sebuah kisah. Yesus diundang untuk makan siang oleh Simon orang Farisi, tetapi peristiwa tersebut tidak menjadi suatu pertemuan pribadi. Tamu-tamu yang sepertinya tidak diundang bermunculan, termasuk seorang wanita yang tinggal di bagian gelap dari kota tersebut, secara terang-terangan, mulai membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan minyak wangi yang dibawanya serta dalam sebuah buli pualam khusus. Simon orang Farisi melintas, mengangkat alis matanya, dan kemudian berkata dalam hatinya, dengan congkak, bahwa dia tidak mengundang Kristus untuk melakukan pertemuan umum dengan orang berdosa seperti yang terjadi sekarang di tempatnya.

Kristus memberi tahu tuan rumah, “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih” (Luk. 7:47).

Simon orang Farisi sepertinya tidak bisa menerima khotbah singkat itu. Tetapi kita harus bisa, meskipun kebenaran yang ditulis di sini harus didekati secara hati-hati. Di satu sisi berdiri Simon orang Farisi, konsul kehormatan, ketua dari Lion Club lokal, yang menikah dengan ketua perhimpunan dana tahunan sekolah Kristen. Di sisi yang lain, seorang pelacur, yang tasnya penuh dengan kondom. Bukan lawan yang seimbang, bukan?

Tetapi Kristus berkata bahwa sang pelacur sungguh-sungguh mengasihi. Simon pasti terkejut dengan tanggapan yang tidak menyenangkan dari tamunya. Lagipula, dia yang mengundang pengkhotbah keliling itu untuk makan siang. Bukankah hal itu menunjukkan sesuatu? Tentu. Tetapi Simon tidak pernah berlutut dan berkotor-kotor dan membersihkan kaki Kristus yang berdebu. Wanita tersebut melakukannya. Orang yang mengetahui secara dalam kebenaran tentang pengampunan, mengetahui secara dalam bagaimana mengasihi − itulah yang disampaikan Kristus kepadanya.

Polanya sederhana: pertama dosa, kemudian pengampunan, dan kemudian kasih kita. Melalui pola ini kita mendapatkan suatu pengetahuan yang lebih dalam tentang Allah. Itulah yang sedang kita bicarakan di sini − suatu pengetahuan tentang Allah. Tetapi untuk sampai di sana merupakan suatu perkara yang sulit, karena dosa adalah penghalangnya.

Dengarkanlah! Kejatuhan kita dari kemuliaan di taman Eden telah mengubah secara mutlak segala sesuatu dan segala sesuatu secara mutlak. Tidak ada keragu-raguan tentang hal itu. Tetapi kita tidak akan pernah mengerti begitu besarnya karakter dari seorang Allah yang mengampuni seandainya kita tidak jatuh ke dalam dosa. Itu benar. Kita tahu lebih banyak tentang Dia karena Dia telah mengampuni kita. Lagipula, kita tahu jauh lebih banyak daripada malaikat.

Setiap ucapan yang dalam tentang kasih Allah di dalam Alkitab muncul dari pengalaman yang menggetarkan akan pengampunan di dalam hati. Kita tidak akan mengerti rekonsiliasi atau pengudusan jika kita sebelumnya tidak dibebaskan dari kesengsaraan dalam dosa. Kita mengenal Allah karena dosa kita.

Orang-orang percaya dan orang-orang tidak percaya sering bertolak- belakang dalam hal ini. Apa yang sering terjadi dengan ketidakpercayaan adalah penolakan untuk percaya di dalam realitas dosa manusia. Lagipula, siapa yang membutuhkan Allah jika kita dapat melakukan segalanya secara sendiri, betul?

Kekristenan modern juga meremehkan dosa. Orang-orang yang telah dibesarkan dalam suatu persekutuan Kristen dapat dengan mudah meremehkan dosa; tetapi ketika mereka melakukannya, mereka juga menghilangkan rekonsiliasi. Pengampunan tidak banyak berarti jika di sana tidak ada kotoran untuk dibersihkan. Bagi orang Kristen modern, pekerjaan baik dan gagasan-gagasan yang tinggi telah menjadi jiwa dari Kekristenan. Jika, seperti kata pemazmur, “Berbahagialah orang …, yang dosanya ditutupi” (Mzm. 32:1), maka orang Kristen modern tidak mengerti apa-apa tentang anugerah ini.

Tetapi orang-orang yang telah dibuat sampai berlutut, mengerti dan mengerti secara dalam sukacita penghapusan dari pengampunan, kualitas dari belas kasihan. Mereka mengenal kasih Allah.

Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu (Rm.6:1)? Tentu saja tidak. Orang-orang yang berkata begitu sama sekali tidak mengasihi Allah. Hal itu merupakan penghinaan terhadap kasih ilahi.

Tetapi apa yang disampaikan oleh gagasan ini adalah bahwa setiap kita memiliki suatu kesadaran yang dalam dan menetap tentang keberdosaan kita. Jika Anda meninggikan diri sendiri dan menganggap diri seorang kudus, Anda tidak akan pernah mengerti pengampunan, Anda tidak akan pernah mengenal kasih Allah, dan Anda tidak akan pernah mengembalikannya ke dunia-Nya dan umat-Nya. Tetapi jika Anda memahami dosa Anda dan mencari pengampunan, Anda akan mengetahui di dalam hatimu komitmen yang dalam dari janji Kristus sendiri tentang kasih dan sukacita.

Orang-orang yang mengetahui kebutuhan mereka akan Allah mengenal Dia lebih baik daripada mereka yang tidak, karena mereka mengerti apa arti diampuni.

Ketika kita ingin mengerti hal ini, tidak ada lagi yang lebih atau kurang daripada Injil.♥

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang
Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji- Mu.
-Mazmur 119:67-

Orang-orang sering berkata, khususnya di saat-saat tekanan yang berat, bahwa penderitaan membangun karakter dan menguatkan iman. Memang demikian. Tetapi tidak selalu. Lebih lagi, mempercayai hal tersebut ketika seseorang berada di saat krisis bukanlah suatu hal yang mudah.

Tiba-tiba dan tanpa peringatan, seluruh kota hancur berkeping-keping akibat pergerakan lempeng bumi yang mengguncang dan menggelegar. Sesudah masa gempa bumi, orang-orang yang dalam keadaan bingung berdiri di jalan di tengah-tengah reruntuhan hidup mereka dan bertanya-tanya tentang kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya. Beberapa orang pada saat itu menjadi lebih dekat kepada Allah dari sebelumnya. Tetapi pada waktu kekacauan tersebut berlalu, rumah-rumah yang baru dibangun, dan jalan-jalan diperbaiki, keingintahuan dan pertanyaan itu pun ikut hilang. Kehidupan berlanjut. Keteraturan kembali dan bersamanya, ketidakacuhan.

Penderitaan juga menimbulkan atheisme. Seorang anak kecil menderita kanker. Di sudut yang gelap, keluarga bergandengan tangan dan datang di hadapan Allah, memohon kehidupan. Tetapi sang anak meninggal dunia, dan kelihatannya semua doa hanya sia-sia belaka. Bahwa jiwa memberontak akibat doa yang tidak terjawab − akibat Allah yang kelihatannya tidak peduli − merupakan hal yang dapat dimaklumi. Juga tidak sukar untuk dimengerti mengapa beberapa orang bisa berkata bahwa jika Allah ada, Dia tidak dapat menjadi Allah yang mengasihi. Berapa banyak orang yang sungguh-sungguh terhilang oleh bencana tersebut? Mungkin jutaan. Di manakah Allah yang mengasihi pada saat itu? Siapakah yang dapat melupakan kata-kata cacian dari istri Ayub? “Kutukilah Allah dan mati,” kata sang istri kepada suaminya dalam usaha untuk meringankan penderitaannya.

Apa yang harus kita ingat adalah kapan pun kedekatan dengan Allah yang berasal dari suatu perjalanan melalui lembah kekelaman terjadi, Allah yang mahakuasa-lah yang membuat kedekatan itu terjadi.

Apa yang tampak jelas di sini adalah bahwa penderitaan hanya memurnikan hati yang telah percaya. Hanya jiwa yang dulunya pernah dekat kepada Allah yang dapat mengakui bersama dengan pemazmur: “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu” (Mzm 119:67).

Mari kita membuat sebuah lompatan yang besar untuk sesaat. Apa yang juga tampak jelas adalah kemakmuran dan kesenangan tidak pernah membawa orang lebih dekat kepada Allah. Dua mobil dalam garasi, rekening tabungan yang besar, keluarga yang sehat, rumah yang dinaungi pohon − semua hal ini membuat kita merasa telah cukup diri dan aman sepenuhnya. Kita berdiri di atas pekarangan yang hijau dan mengagumi hasil kerja tangan kita. Dalam kemakmuran kita, kita perlu didorong untuk mengingat Allah.

Renungkanlah Salomo, di dalam seluruh hikmatnya, tetap jatuh dalam dosa.

Apa yang terjadi pada kita berlaku juga untuk keluarga dan bangsa-bangsa. Kesenangan dan kenyamanan melemahkan karakter, mengurangi kebergantungan kita pada suatu kuasa yang lebih besar dari diri sendiri, dan menguasai kita dengan sikap bergantung pada diri sendiri yang merupakan salah satu bentuk dari penyembahan berhala. Pria atau wanita kaya yang dapat tetap dekat dengan Allah kemungkinan adalah seseorang yang dulunya pernah dekat dengan Dia sebelum kekayaan menghalanginya. Tidak terhindarkan, apa yang kemudian disadari oleh pria atau wanita tersebut adalah betapa mekanis jadinya iman kita ketika kita hidup dalam kemewahan.

Apapun bentuk kehidupan kita secara materi, jika kita menyadari bahwa setan sangat mampu untuk mempermainkan kita, memimpin kita kepada lubang dan wabah, tetapi selain itu juga yakin bahwa Allah tetap memerintah, maka kita dapat tenang. Hal itu tidak berarti bahwa semua doa akan dijawab seperti apa yang kita inginkan. Kematian yang tidak terduga terjadi dan begitu sering. Mujizat yang sangat diharapkan tidak terjadi. Kita menderita. Dunia dapat menjadi sebuah tempat yang buruk. Banyak hal hancur berantakan. Orang-orang yang baik melakukan hal-hal yang buruk.

Namun jika kita mengetahui gambar besarnya − bahwa Allah memerintah − maka kita tahu, walaupun di dunia ini kita harus menurunkan seorang anak kecil ke dalam sebuah kubur, suatu hari kelak kita akan melihat kemuliaan wajah Allah. Suatu hari kelak realitas-Nya akan dinyatakan dan kita akan mengenal Dia secara intim. Suatu hari kita dapat berkata bersama dengan pemazmur, “sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.”

Bagi Allah segala kemuliaan.♥

Kesendirianku

Kesendirianku
Luputkanlah kiranya nyawaku dari pedang, dan aku yang seorang diri ini dari cengkeraman anjing.
-Mazmur 22:21-
(Terjemahan Alkitab versi Belanda)

Sebagian orang sangat menghindari keramaian, sementara sebagian orang yang lain menjauhkan diri dari kesendirian ibarat sebuah tulah. Sebagian orang menginginkan, bahkan sampai sakit, untuk bisa ikut di setiap kepanitiaan; sebagian orang yang lain lebih suka dicabut giginya daripada ikut di dalamnya. Sebagian orang senang dengan kesibukan, kalender yang penuh dengan coretan catatan kegiatan, dan sederet jadwal acara sosial yang tidak ada habisnya; sebagian orang lain lebih senang melepaskan sepatunya dan tinggal di rumah.

Perbedaan dalam karakter sangat jelas dan nyata. Orang-orang yang senang menyendiri menjadi letih hanya dengan mengamati orang-orang yang suka bersosialisasi, berkeliling dengan lincahnya di antara para tamu di sebuah pesta, berjabat tangan, bercerita, menebar tawa seperti sebuah virus bahagia. Ketika orang-orang yang suka bersosialisasi memandang orang-orang yang suka menyendiri, mereka tidak dapat membayangkan di mana orang-orang penyendiri tersebut menemukan kesenangan mereka.

Memang bodoh bagi seseorang untuk menghakimi orang lain berdasarkan tingkah laku sosial atau kurangnya tingkah laku sosial. Banyak urusan di dunia ini yang tidak akan tuntas jika kita tidak pernah meninggalkan kenyamanan ruang pribadi kita. Di lain pihak, gagasan-gagasan yang penting dan kreatif umumnya muncul dalam kesendirian dan kedalaman berpikir yang tidak mungkin dapat dicapai seseorang dalam kerumunan orang banyak.

Di samping perbedaan kita, setiap kita mempunyai bagian dari diri yang tersendiri, yaitu jiwa − yang disebut oleh Daud dua kali dalam Mazmur, seorang diri (“my solitary one,”KJV). Jiwa kita, bagian dari diri yang tersendiri adalah modal berharga kita. Pikirkanlah hal ini − SEGALA SESUATU YANG LAIN YANG KITA MILIKI DAPAT TERGANTIKAN. Bahkan tubuh kita dapat dibinasakan, diturunkan ke dalam kubur. Satu hal yang tetap adalah jiwa.

Namun, bahkan dalam individualitas dan kesendiriannya, jiwa bersifat sosial. Dunia dapat mendekati jiwa, dan jiwa dapat mendekati dunia. Panca indra kita, misalnya, dapat memberi kita keindahan sebuah pemandangan matahari terbenam, begitu luar biasa sehingga terasa seperti sorga. Kita mendengar atau melihat atau membaca kisah yang indah, dan air mata kita mengalir deras. Jiwa mungkin sendiri, tetapi ia bukan tanpa hubungan.

Meskipun demikian, seindah-indahnya pemandangan matahari terbenam, KITA TIDAK MENJADI SATU DENGAN PEMANDANGAN. Dan walaupun kita bisa merasakan, ini merupakan suatu berkat, kedalaman sukacita dan ratapan dari orang lain, sesuatu di dalam diri kita tetap merupakan individu yang unik. Dalam pernikahan, dua orang boleh jadi menjadi satu; tetapi bahkan dalam hubungan manusia yang paling intim sekalipun, jiwa tidak bisa berada di beberapa tempat sekaligus. Jiwa bersifat pribadi, sendirian.

Kesendirian dari jiwa sering menciptakan dua macam masalah. Kadang-kadang kita terlalu menarik diri dalam kesedihan, ratapan, atau luka ke suatu tempat persembunyian di mana bahkan pikiran untuk bunuh diri tercetus sebagai kemungkinan dalam pikiran kita. Kita menjadi frustasi dan mungkin lebih buruk. Keputusasaan dapat mengancam suatu kesendirian yang berlebihan. Jalan ke arah kesendirian yang berlebihan menuju kepada sikap yang terlalu menarik diri, terus merefleksi diri, dan bahkan narsisme.

Namun sekali lagi, kadang-kadang kita menjalani hidup ini dengan begitu hati-hati, sehingga esensi dari jiwa menjadi layu di tengah aktivitas yang tidak terkontrol dari kehidupan umum kita yang menggila. Jiwa memerlukan waktu menyendiri untuk dapat bertumbuh. Jalan yang menghindari refleksi diri dapat merampas pikiran dan refleksi kita yang mendalam.

Mungkin kita perlu memikirkan hal itu seperti demikian: jiwa memiliki banyak keserupaan dengan sebuah tabernakel. Di dalam jiwa dan tabernakel, terdapat ruangan umum, disini persahabatan yang erat dan keintiman diizinkan masuk. Tetapi melampaui gerbang tempat umum terdapat ruang mahakudus, dan ruangan ini tidak dapat dimasuki oleh siapa pun.

Kecuali Tuhan. Ia adalah satu-satunya obat bagi jiwa kita yang sakit.

Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita dari kesendirian kita dan juga memberi kita kehidupan sosial yang sangat dibutuhkan bagi kesehatan dari kehidupan kita yang paling terpencil. Orang-orang yang mengenal Allah di sana, di dalam takhta batin mereka sendiri, mengenal Dia sepenuhnya dan dengan indah. Merekalah yang berada paling dekat dengan Allah.♥

TANPA ALLAH DI DALAM DUNIA

TANPA ALLAH DI DALAM DUNIA
Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia
-Efesus 2:12-

Hari ini atheisme tidak hanya ada dimana-mana, di tempat-tempat tertentu ia sungguh-sungguh digemari. Orang-orang yang menyangkal Allah jauh lebih banyak sekarang ini daripada beberapa tahun yang lalu, dan di dalam banyak kasus orang-orang percaya tidak lagi merasa jijik dengan retorik orang-orang atheis seperti pada waktu yang lalu, dan ketidakacuhan tersebut menciptakan masalah.

Berpikirlah seperti ini. Saat seorang anak kecil mendengar sesuatu yang jelek tentang orangtuanya, reaksi pertamanya adalah sikap membela orangtuanya. Tetapi ketika anak itu mendengar hal-hal negatif tersebut berulang kali, reaksinya mulai mati rasa. Kita menanggapi kritik seperti itu secara lebih tenang dan akibatnya menderita suatu kerugian moral yang besar.

Atau bagaimana dengan hal ini. Ketika para pemimpin politik kita terus-menerus dikritik melalui pers, dalam talk show, dalam siaran TV malam, kita menjadi terbiasa untuk mendengarkan hal-hal jelek tentang mereka. Kita berhenti bereaksi secara negatif, dan para pemimpin kita lambat laun kehilangan kredibilitas di mata kita. Lebih lagi − dan lebih buruk lagi − pada waktu racun bekerja di dalam diri kita, ia memadamkan aspirasi kita sendiri untuk terlibat dalam pelayanan umum. Hal itu sungguh membahayakan, bukan?

Namun hal itu terus berlanjut. Demikian juga kampanye yang terus berlangsung untuk melawan Allah di dalam kebudayaan kita.

Hal ini tidak dapat disangkal bahwa suatu ancaman yang serius terhadap kehidupan umum terjadi ketika beberapa tokoh yang menonjol dari kebudayaan kita membuat agama sebagai bahan tertawaan. Bahkan orang kafir pun mengerti bahaya dari mengabaikan agama. Tetapi racun tersebut sudah ada di dalam diri kita, di dalam budaya kita, dan kita tampak tidak berdaya untuk melakukan sesuatu terhadapnya.

Kerajaan-kerajaan meninggalkan jejak sejarah di belakang mereka, dan banyak dari sejarah tersebut memiliki kesamaan. Suatu bangsa dan sebuah budaya dilahirkan dan kemudian bertumbuh menjadi makmur. Kemakmuran memimpin kepada kerusakan moral, kerusakan moral kepada ketidakacuhan religius, ketidakacuhan religius kepada atheisme− sebuah dunia tanpa Allah − dan atheisme kepada kehancuran.

Paulus tahu hal itu. Sebenarnya, itulah yang hendak diberitahukannya kepada jemaat di Efesus. Dia berkata bahwa dulu mereka hidup di waktu ketika dunia tanpa Allah. Tetapi sekarang tidak lagi.

Apa yang terjadi pada orang-orang yang bermaksud baik adalah mereka mulai memakai agama seolah-olah hal itu seperti makanan sehat. Mereka berpikir iman penting hanya pada hari-hari libur dan bagi upacara pernikahan. Sebenarnya, mereka bisa membawa anak-anak ke Sekolah Minggu karena mereka berpikir bahwa anak-anak perlu suatu dosis yang baik dari agama, seperti minyak ikan. Beberapa orang yang cerdas (dan sombong) senang berpikir bahwa agama adalah obat yang baik bagi masyarakat; hal itu menjaga mereka tetap teratur. Tetapi atheisme muncul dari ketidakacuhan.

Seringkali 0rang-orang yang menyangkal Allah menyukai seni, mempraktikkan kedermawanan, dan memajukan pendidikan dengan penuh semangat. Seringkali mereka senang dengan hal-hal ideal yang membangkitkan talenta puisi di dalam diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang ramah. Tetapi bagi mereka, agama adalah hal-hal yang tidak berguna.

Bagaimana kita menjangkau orang-orang tersebut? Sepenting apapun kredo-kredo dan praktik iman − berkhotbah, baptisan, perjamuan kudus − satu-satunya cara untuk membangkitkan kembali suatu rasa haus akan Allah di dalam diri orang-orang ini adalah kuasa kasih. Hanya kasih yang dapat mengerjakan keselamatan. Di Efesus, orang-orang yang hidup di dalam dunia tanpa Allah datang kepada Kristus dengan beramai-ramai − bukan melalui teguran atau hukuman keras, tetapi melalui kasih yang oleh para rasul dipikul tanpa mementingkan diri sendiri. Mengapa? Dalam kasih tersebut, realitas dari suatu kehidupan di dalam Allah diperlihatkan dengan jelas. Kasih tersebut mencairkan hati yang beku.

Lihat! Kita harus hidup di dunia; hanya pada saat mati kita dipanggil ke dalam keberadaan yang lain. Di sini, begitu banyak usaha melawan iman kita: kekayaan, pencobaan, pekerjaan, rekreasi, masalah-masalah, dan penderitaan kita. Kesibukan kita terlalu sering mengalihkan perhatian kita, sehingga orang-orang tersebut, bahkan orang-orang percaya, dapat menjalani hidup hari lepas hari tanpa sungguh-sungguh berpikir tentang Allah.

Tetapi di dalam konflik yang kita semua hadapi dalam hal kesetiaan yang terbagi, hanya Allah yang dapat melengkapi kita dengan kekuatan dan peralatan perang untuk terus hidup sepenuhnya di dalam terang-Nya. Kita dapat menjadi orang-orang percaya yang sungguh-sungguh hanya ketika kita tinggal dekat kepada Allah, ketika kita hidup dengan Dia, dalam Roh-Nya − tidak terpisah dari dunia, tetapi di pusat kesibukan kita.

Kita membawa kasih-Nya ke dalam hidup semua orang, bahkan kepada orang-orang atheis di sekitar kita, ketika kedekatan kita dengan Dia menjadi natur kedua kita yang sudah dilahirbarukan.♥